Dan jenazah itupun berkata
Dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini, kita tidak jarang menemui berbagai macam peristiwa yang tidak masuk akal, yang masih menunjukkan adanya keterkaitan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kita sebagai umat Islam yang beriman tentunya harus mampu mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut untuk dijadikan sebagai titik tolak dalam meningkatkan kualitas iman kita terhadap adanya ‘adzab (siksa) kubur.
Ini adalah kisah nyata, kisah penguburan seorang pejabat di sebuah
kota
di Jawa Timur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Insya Allah kisah ini menjadi hikmah dan cermin bagi kita semua sebelum ajal menjemput. Kisah ini diceritakan langsung oleh seorang Mudin (pengurus jenazah), dengan
gaya
bertutur sebagai berikut:
“Saya terlibat dalam pengurusan jenazah lebih dari 16 tahun. Berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam jangka atau kurun waktu tersebut, berbagai macam jenis mayat sudah saya tangani.
Ada
yang meninggal dunia karena keceakaan, sakit tua, sakit jantung, bunuh diri dan lain sebagainya. Bagaimanapun pengalaman mengurus satu jenazah seorang pejabat yang kaya raya dan berpengaruh ini menyebabkan saya mendapatkan kesempatan “istimewa sepanjang hidup.
Inilah pertama kali saya bertemu dengan satu jenazah yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan sekaligus memberukan banyak hikmah. Peristiwa ini terjadi pertengahan bulan Pebruari 2001 dan kebetulan sebagai Mudin tetap saya diminta oleh anak almarhum mengurus jenazah bapaknya.
Saya terus pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba di rumah almarhum, tercium bau sangat busuk dari jenazah tersebut. Bau yang sangat memualkan perut dan menjijikkan. Saya telah mengurus banyak jenzah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Ketika saya melihat wajah almarhum, sekali lagi saya tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh macam-macam perasaan: takut, cemas, kesal dan lain sebagainya, seolah-olah tidak mendapatkan nur dari Allah SWT.
Kemudian saya mengambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum dan saya potong. Secara kebetulan pula, di situ ada 2 orang yang pernah mengikuti kursus “fardlu kifayah” atau mengurus jenazah yang pernah saya ajar. Saya ajak mereka membantu saya dan mereka setuju. Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian pertama pun terjadi. Sekedar untuk pegetahuan pembaca, apabila memandikan jenazah, badan mayat perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaknya diurut-urut untuk mengeluarkan kotran yang tersisa. Maka saya pun mengurut-urut perut almarhum. Tetapi apa yang terjadi, pada hari itu sangat mengejutkan. Allah berkehendak dan menunjukkan kekuasaan-Nya. Karena pada hari tersebut, kotoran tidak keluar dari dubur, akan tetapi dari melalui mulutnya.
Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang terjadi di hadapan saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya harap hal itu tidak terulang lagi karena saya mengurut perutnya untuk kali yang terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah SWT berlaku. Ketika saya urut perutnya keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu seperti ulat kotoran (latung). Padahal almarhum meninggal akibat serangan jantung dan waktu kematiannya dalam tempo begitu singkat mayatnya sudah menjadi demikian rupa.
Saya lihat wajah anak almarhum. Mereka seperti terkejut, mungkin malu, terperanjat akan aib yang menimpa bapaknya. Kemudian saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan, “Inilah ujian Allah swt terhadap kita”.
Kemudian saya minta salah seorang dari pembantu tadi pergi memanggil semua anak almarhum. Almarhum pada dasarnya adalah seorang yang beruntung, karena mempunyai 7 orang anak, kesemuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan 6 lainnya berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya beri nasehat mereka. Saya mengingatkan mereka, bahwa tanggung jawab saya hanyalah membantu menguruskan jenazah bapak mereka, bukan mengurus semuanya, tanggung jawab terletak pada ahli warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih utama mengurus jenazah bapak mereka, bukan hanya mudin, imam atau guru saja.
Saya kemudian meminta ijin serta bantuan mereka untuk menunggingkan mayat tersebut. Takdir Allah, ketika mayat tersebut ditunggingkan, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebaskom banyaknya. Baskom itu kira-kira lebih besar sedikit dari penutup saji meja makan. Subhaanallaah, suasana menjadi makin panik. Benar-benar kejadian yang luar biasa. Saya terus berdoa berharap tidak terjadi lagi kejadian yang lebih ganjil.
Selepas itu saya memandikan kembali mayat tersebut dan saya ambilkan air wudlu. Saya meminta kain kafan kepada anak-anaknya. Saya dapati kain kafan tersebut hanya cukup untuk menutup ujung kepala dan ujung kaki, tak lebih dari itu, sehingga saya tidak dapat mengikat kepala dan kaki. Tidak keterlaluan kalau saya katakan bahwa kain kafan itu seperti tidak mau menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang khilaf di kala memotongnya. Lalu saya ambil pula kain, saya potong dan saya letakkan di tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa mau dikata, itulah yang dapat saya lakukan. Dalam waktu yang sama, saya berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jangan Engkau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sekedar peringatan kepada hamba-Mu ini”.
Selepas itu saya beri kalimat tentang sholat jenazah tadi. Satu lagi masalah timbul, jenazah tidak dapat diantar ke pekuburan karena tidak ada mobil jenazah atau mobil ambulan. Saya hubungi kelurahan, pusat Islam, masjid dan lain sebagainya, tapi susah. Semua sedang terpakai. Beberapa tempat tersebut juga tidak punya kereta jenazah lebih dari satu, karena kereta yang ada sedang digunakan pula. Satu hal yang saya pikir bukan hanya sekedar kebetulan.
Dalam kondisi begini, seorag hamba Allah mennawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk mengeluarkan mobil van (sejenis mobil pick up) dari garasi rumahnya, lantas muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya di rumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara tegas dia berkata di hadapan khalayak ramai, “ Mas, saya tidak perbolehkan mobil kita ini dipergunakan untuk angkat jenazah ini, sebab semasa hidupnya, dia tidak pernah mengijinkan kita naik mobilnya”.
Renungkanlah, kalau tidak ada apa-apanya, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh bapak yang punya van itu untuk membawa kembali vannya. Selepas itu muncul pula seorang laki-laki menawarkan bantuannya. Laki-laki itu mengaku anak murid saya. Dia meminta izin saya dalam 10-15 menit untuk membersihkan vannya. Dalam waktu yang ditetapkan, muncullah mobil van tersebut, tapi dalam keadaan basah kuyup.
Mobil yang dimaksudkan itu lori yang ia gunakan untuk menjual ayam ke pasar. Dalam menuju kawasan perkuburan, saya berpesan kepada kedua pembantu tadi supaya masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di kampung saja akan lebih baik. Saya tidak mau mereka melihat lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu berlanjut lagi. Taqdir Allah yang terakhir sangat memilukan. Sesampainya jenazah di kawasan perkuburan saya perintahkan 3 orang anaknya untuk turun ke liang kubur dan 3 lagi menurunkan jenazah. Allah berkehendak atas semua makhluk ciptaan-Nya, saat jenazah itu menyentuh tanah tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada asal mulanya kering. Hari itu tidak ada hujan tetapi dari mana datangnya air itu? Sukar saya untuk menjawabnya. Lalu saya arahkan anak almarhum supaya jenazah bapak mereka dikemas dalam peti dengan hati-hati. Saya takut nanti ia terlentang atau telungkup. Na’uudzubillaah, kalau mayat terlungkup, tak ada harapan untuk mendapat syafa’at Nabi.
Papan keranda diturunkan dan kami segera timbun kuburan tersebut. Selepas itu kami injak-injak tanah supaya padat dan bila hujan ia tidak mendap/ambrol. Tapi sungguh mengherankan, saya perhatikan tanah yang diinjak itu menjadi becek, saya tahu, jenazah yang ada di dalam telah tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti menginjak tanah itu dan meninggalkan lubang kubur ¼ meter, artinya kuburan itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya tetapi seperti kubur yang berlobang. Tidak cukup dengan itu, apabila hendak saya bacakan talqin, saya lihat tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air.
Maasyaa Allaah, tidak ada dalam sejarah peristiwa itu terjadi. Melihat keadaan itu saya ambil keputusan untuk menyelesaikan penguburan secepat mungkin. Sejak lama terlibat dalam penguburan jenazah, inilah mayat yang tidak saya talqinkan, saya bacakan tahlil dan do’a. Setelah saya pulang ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya, saya bertanya kepada istri almarhum, apakah yang dilakukan almarhum semasa hayatnya? Apakah ia pernah mendzalimi orang lain? Mendapat harta dengan cara merampas, menipu dan mengambil yang bukan haknya? Memakan harta masjid dan anak yatim? Menyalah gunakan jabatan untuk kepentingan pribadi? Tidak pernah mengeluarkan zakat, shadaqah dan infaq? Istri almarhum tidak dapat memberikan jawabannya. Saya pikir dia malu untuk memberi tahu. Saya tinggalkan nomor telepon, tapi sedihnya hingga sekarang tidak seorangpun anak almarhum yang menghubungi saya. Untuk pengetahuan umum, anak alamrhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi, hingga ada seorang yang beristri seorang
Australia
dan seorang lagi istrinya orang Jepang.
Peristiwa ini akan saya ingat dan kisah ini benar-benar nyata bukan isapan jempol belaka. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Pencipta jagad raya ini.
Kepada semua pembaca tanyalah diri kita, akankah kita mengingkari peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu bapak kita, anak kita atau kaum keluarga kita-kita. Renungkanlah ….
Pada akhirnya setelah semalam merenungkan artikel ini, dalam hati berdo’a: “Ya Allah, jaukanlah aku dan keluargaku dari peristiwa itu dan peristiwa semacam itu. Ya Allah jauhkanlah aku dan keluargaku dari akhlaq yang menjadikan peristiwa itu dan peristiwa yang semacam dengan itu.” Amiin.