Renungan Suci Malam Tahun Baru 2008
Renungan Suci Malam Tahun Baru 2008
Bersama Gus Suyuthi Dahlan
Menyadari perkembangan ilmu dan teknologi serta pola kehidupan masyarakat
modern yang semakin pesat, bersifat kompleks, persaingan dan kompetisi
yang semakain tajam bahkan tidak terkendali, kehidupan modern yang
berorientasi materi dan kenikmatan sesaat yang menimbulkan tekanan fisik dan psikis yang nyaris memporak-porandakan dan merusak tatanan
kehidupan serta menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan dan
kehancuran. Bahkan menyebabkan manusia semakin jauh dari esensi penciptaannya, yakni illaa liya’buduun (hanya mengabdi dan menyembah kepada Allah) tentunya dengan berbagai macam aplikasi dan penafsirannya.
Al-Quran dan hadits sebagai pusaka dan perisai
serta pedoman hidup setiap muslim, pelan tapi pasti semakin
ditinggalkan oleh mayoritas kaum muslimin. Bahkan terasa asing
kedengarannya di abad modern ini. Manusia semakin lupa dan
jauh dari Tuhannya, lebih ironis lagi Al-Quran sebagai wahyu dan
Kalamullah jauh tidak berarti dibandingkan dengan konsep-konsep
pakar-pakar orientalis. Di sisi lain kaum muslimin dengan Al-Quran
sebagai karya agung Allah Yang Maha Agung yang telah diakui
keontetikan, kemurnian, dan keilmiahannya oleh berbagai pihak, baik
dari kalangan muslim maupun non muslim, justru kini hanya dijadikan
sebagai sebatas pajangan dan hiasan rumah serta identitas yang bersifat
formalitas oleh kebanyakan kaum muslimin dari semua kalangan
dan latar belakang pendidikannya. Apalagi Al-Hadits maupun kalam-kalam
hikmah yang dihasilkan oleh pakar-pakar muslim yang bijak dan
berakhlaqul karimah sudah semakin tidak terdengar lagi faedah dan
manfa’atnya bagi peningkatan kualitas perilaku dan akhlaq kaum muslimin
itu sendiri, sehingga seakan-akan menjadi bom waktu yang akan membunuh
dan menenggelamkan eksistensi serta keberadaan kaum muslimin di abad
millennium yang bersifat kompetitif.
Pemuda
sebagai bagian generasi penerus cita-cita luhur perjuangan agama di
masa mendatang tentunya bukan saja dituntut untuk meningkatkan kualitas
intelektualnya. Akan tetapi tidak kalah pentingnya harus ditunjang
dengan keluhuran budi pekerti, keistiqomahan ibadah, kefahaman aqidah
dan syari’ah serta keberanian menegakkan kebenaran di tengah-tengah
kebathilan yang semakin menggurita dan menggerogoti sendi-sendi
kemulyaan agama Islam.
Sudah
menjadi kenyataan bahkan membudaya tradisi tutup tahun ditandai dengan
berbagai macam kegiatan-kegiatan yang bersifat hura-hura, mubadzir,
mudhorot, sia-sia dan merugikan baik secara materi maupun non materi.
Pesantren
sebagai benteng kokoh utama sekaligus sebagai salah satu pelaku utama
penerjemah konsep-konsep agama dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara, tentunya ikut bertanggug jawab menyelamatkan masyarakat
muslim pada umumnya dan muda-mudi pada khususnya agar tidak hanyut dan
ikut pada perilaku dan budaya bathil yang
sengaja di desain sedemikian rupa sehingga memberikan daya tarik yang
sangat kuat untuk mempengaruhi dan merubah kepribadian muslim menjadi
pribadi jahiliyah modern.
Berdasarkan
kenyataan di atas maka lembaga pendidikan sosial kemasyarakatan Pondok
Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang, memberikan alternatif kegiatan
yang bersifat positif dan bernafaskan Islam yang dikemas dalam acara
Renungan Suci Malam Tahun Baru.
Berangkat
dari kegiatan yang bersifat positif yang berorientasi pada syariat dan
berlandaskan pada Al-Quran dan Hadits, serta bercermin pada ahlaqul
karimah, marilah kita tutup akhir tahun 2007 dan kita songsong tahun
baru 2008 dengan peningkatan kualitas dan kuantitas amaliyah, ukhuwah
wathoniyah, insaniyah, islamiyah dan ubudiyah.